Pengobatan Tetanus

Pengobatan TetanusPenyakit tetanus yang merupakan penyakit infeksi ini disebabkan oleh Mycobacterium tetani yang berbentuk spora masuk ke dalam luka terbuka, berkembang biak secara anaerobik dan membentuk toksin.

Penyakit Tetanus

Tetanus yang khas terjadi pada usia anak adalah tetanus neonatorum. Tetanus neonatorum dapat menimbulkan kematian karena terjadi kejang, sianosis dan henti napas. Resevoarnya adalah kotoran hewan atau tanah yang terkontaminasi kotoran hewan dan manusia.

Pengobatan Tetanus

Pengobatan Tetanus

Gejala tetanus awal ditunjukkan dengan mulut mencucu dan bayi tidak mau menyusu. Kekebalan pada penyakit ini hanya diperoleh dengan imunisasi atau vaksinasi lengkap karena riwayat penyakit tetanus tidak menyebabkan kekebalan pada anak. Pengobatan Tetanus dengan Imunisasi yang diberikan tidak hanya DPT pada anak, tetapi juga TT pada calon pengatin (TT caten), TT pada ibu hamil yang diberikan saat antenatal care (ANC) dan DT pada anak sekolah dasar kelas I dan VI.

Penyakit tetanus merupakan penyakit infeksi berbahaya karena memengaruhi kerja sistem saraf dan otot. Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, serta rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Gejala tetanus dengan Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas, dan paha. Infeksi tetanus disebabkan oleh Clostridium tetani yang memproduksi toksin tetanospasmin. Toksin ini akan mengganggu aktivitas sistem saraf. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri tetanus. Gejala Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.

Pengobatan Tetanus

Pengobatan Tetanus :

Imunisasi DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)

Pengobatan Tetanus dengan Vaksinasi DPT akan menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit Difteria, Pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari), dan tetanus. Di Indonesia vaksin terhadap ketiga penyakit tersebut dipasarkan dalam 3 kemasan, yaitu dalam bentuk kemasan tunggal bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), kombinasi DPT (difteria, pertusis dan tetanus).

Vaksin difteria dibuat dari toksin atau racun kuman difteria yang telah dilemahkan dinamakan toksoid. Biasanya diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DTP.

Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif adalah toksoid tetanus atau toksin atau racun kuman tetanus yang sudah dilemahkan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal dan kombinasi dengan vaksin difteria (vaksin DT) atau kombinasi dengan vaksin difteria dan pertusis (vaksin DTP).

Vaksin terhadap penyakit batuk rejan atau batuk seratus hari terbuat dari kuman Bordetella Pertussis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama vaksin difteria dan tetanus (vaksin DTP).

a. Cara Imunisasi

Pengobatan Tetanus Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu antara 2 penyuntikan minimal 4 minggu. Imunisasi ulangan/booster yang pertama dilakukan pada usia 1 1/2 – 2 tahun atau 1 tahun setelah suntikan imunisasi dasar ketiga. Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia 6 tahun atau di saat kelas 1 SD. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT. Vaksin pertusis (batuk rejan) tidak dianjurkan pada anak yang berusia lebih dari 7 tahun karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat selain itu juga perjalanan penyakit pertusis pada anak berumur lebih dari 5 tahun tidak parah.

Pada masa mendatang telah dipikirkan untuk memberikan vaksin tetanus khusus untuk anak perempuan yang belum pernah mendapat imunisasi DPT, atau imunisasi DPT tidak lengkap, sebanyak 2 kali lagi pada saat kelas 2 dan kelas 3 SD tindakan ini diperkirakan cukup untuk memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit tetanus sehingga bayi yang kelak dikandung dapat terlindung dari penyakit tetanus neonatorum atau tetanus pada bayi baru lahir. Di Indonesia penyakit tetanus pada bayi baru lahir masih merupakan penyebab kematian yang kadang terjadi pada saat bayi baru lahir.

Imunisasi ulang sewaktu, diperlukan juga bila anak berhubungan dengan anak lain yang menderita difteria atau batuk rejan. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus. Dalam hal imunisasi tidak perlu cemas seandainya anak mendapatkan suntikan ulang sebelum waktunya. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus,biasanya akan memberikan suntikan ulang. Lebih baik memberikan imunisasi berlebih daripada kurang.

b. Kekebalan

Pemberian obat tetanus untuk sistem kekebalan atau sebagai Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteria cukup baik, yaitu sebesar 80-95% dan daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%. Sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50-60%. Oleh karena itu anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih dapat terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan.

c. Reaksi Imunisasi

Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam, pembentukan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari

d. Efek Samping

Terkadang timbul reaksi akibat efek samping yang berat, seperti demam tinggi atau kejang yang disebabkan oleh unsur pertusisnya

e. Kontra Indikasi

Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah dan anak yang menderita penyakit kejang demam kompleks. Juga tidak boleh diberikan kepada anak dengan batuk yang diduga sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi umum).

itulah informasi mengenai gejala tetanus dan pengobatan tetanus.

Pengobatan Tetanus


=====================================

>>> Propolis Melia Nature Untuk Mengobati Penyakit Tetanus dan Penyakit Lainnya, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Gejala Tetanus and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>