Tanda Dan Gejala Penyakit Tetanus

Penyakit tetanus merupakan salah satu penyakit yang mematikan. Biasanya mereka yang menderita penyakit tetanus adalah anak yang  belum mendapat vaksinasi tetanus saat usianya masih kecil. Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan karena bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini hidup di kotoran binatang. Jika Anak anda mengalami luka dalam jangan dibiarkan, lakukan pembersihan luka dengan air yang mengalir. Kemudian diteteskan dengan cairan antiseptic, dan kemudian bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan penyakit tetanus yang lanjut.

Tanda dan gejala penyakit tetanus ditandai dengan demam tinggi, kejang dan juga kesadaran yang mengalami penurunan. Cara mengobati tanda dan gejala tetanus bisa dilakukan dengan menggunakan bahan alami untuk membuat ramuan. Ramuan alami ini terbuat dari 3 jari rimpang kencur, dan juga daun jinten setengah genggam, serta 18 lembar daun ngokilo. Bahan-bahan ini dicuci terlebih dahulu dan dipotong-potong. Kemudian direbus dengan 3 gelas air, setelah itu ditambahkan dengan 3 jari gula aren. Tunggu hingga mendidih dan kemudian sisakan sekitar 3 ¼ nya. Saring dan kemudian diamkan ramuan ini. Jika sudah dingin, minumlah ramuan ini untuk 3 kali sehari dengan kadar ¾ gelas setiap kali minum.

Cara menangani tanda dan gejala penyakit tetanus dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif dengan memberikan DPT, booster dose untuk anak yang masih balita. Jika luka trjadi lagi, maka pemberian booster akan diulang. Imunisasi pasif yang diberian, pembeerian ATS profilaksis 1500-4500 UI yang bisa bertahan sekitar 7-10 hari. Dan pemberian dari imunisasi ini biasanya seriing menyebabkan masalah syok anafilaksis sehingga perlu melakukan skin test dulu.

Tanda dan gejala penyakit tetanus yang ditunjukkan dengan penurunan kesadaran yang terjadi biasanya berkaitan dengan toksin dari tetanus yang bisa membuat jaringan otak meradang. Kemudian keluhan lainnya yang ditunjukkan berdasarkan dari tingkah laku si penderita penyakit tetanus adalah bisa menyebabkan si penderita tidak responsive terhadap sesuatu, terjadi letargik, dan bisa juga koma pada kasus yang berat.

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Tetanus Pada Manusia

Tetanus merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejang karena serangan bakteri. Clostridium tetani yang masuk kje dalam luka sekecil apapun pada tubuh. Clostridium tetani memproduksi toksin tetanispamin yang menempel pada saraf dekat luka kemudian membawanya ke otak dan sumsum tulang belakang sehingga terjadi gahgguan pada aktivitas normal saraf. Tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karenadapat mempengaruhi system saraf. Gejala tetanus pada manusia  umumnya diawali dengan kejang otot rahang bersamaan dengan timbulnya pembengkakan serta rasa sakit dan kaku di otot leher,  bahu dan punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas, dan paha. Masa inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ke tujuh. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT.

Bakteri gejala tetanus pada manusia ini tumbuh pada luka dan mengeluarkan toksin yang dapat menyusup secara sistemik dan menimbulkan kejang otot skelet. Penderita umumnya tidak mengalami demam, tetapi banyak mengeluarkan keringat dan mulai terasa sakit. Terutama pada otot sekitar luka terjadi kedutan (twitching) dan pasien tidak dapat membuka mulut dengan baik (trismus) yang disebabkan oleh meningkatnya tonus otot massester.

Gejala tetanus pada manusia yang pertama adalah kelemahan yang bersifat local atau umum, kekakuan atau kram otot atau kesulitan mengunyah serta menelan makanan. Kesukaran menelan dapat menyebabkan terjadinya aspirasi makanan. Kekakuan biasanya  terjadi dalam 1-4 hari setelah gejala pertama. Masa antara gejala pertama dan terjadinya spasme atau kejang disebut masa awal. Sebagaimana halnya dengan masa inkubasi, masa awal yang pendek, terutama kurang 48 jam, cenderung merupakan penyakit yang lebih serius.  Sejalan dengan bertambah seriusnya penyakit, spasme juga bertambah berat, menjadi sangat nyeri dan melelahkan. Spasme sering dicetuskan oleh stimuli yang ada disekitarnya, seperti cahaya atau bunyi langkah seseorang.

Kejang tetanus berlangsung dari beberapa detik sampai beberapa menit. Perjalanan tetanus pada penderita yang bertahan hidup dapat berlangsung lama (1-2 bulan) dan sulit. Spasme mungkin mulai berkurang setelah 10-14 hari dan menghilang setelah satu-dua minggu lagi. Sisa kelemahan, kekauan dan keluhan lain mungkin bertahan untuk jangka waktu yang lama tetapi penyembuhan lengkap dapat terjadi pada tetanus tanpa komplikasi.

Pada kasus fatal, kematian dapat disebabkan oleh kelelahan dan kegagalan pernapasan. Semua kejadian ini disebabkan oleh tetanospamin yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat kecil pada daerah lesi yang sering kali kecil dan tidak disadari. Jumlah toksin sedemikian kecilnya sehingga pasien yang tidak diimunisasi seringkali tidak mempunyai respons antibody.

Dengan diberikannya blockade neuromuscular, ventilasi mekanis dan antibiotika untuk mencegah beberapa komplikasi tetanus   generalisata, disfungsi autonom yang terkait menjadi masalah baru yang lebih menojol. Manifestasinya meliputi hipertensu dan takikardia yang menetap, tetapi labil, gangguan irama jantung, kontstriksi pembuluh darah perifer, berkeringat sangat banyak, pengeluaran karbondioksida yang meningkat dan pada beberapa kasus timbul hipotensi perlahan-lahan. Adanya cardiac arrest, yang diperkirakan terjadi akibat pengeluaran katekolamin yang berlebihan, menjadi salah satu penyebab kematian pada tetanus generalisiata yang berat. Miokardiatis yang terjadi pada penderita seperti itu menyerupaimiokardiatis pada penderita feokromositoma. Pengeluaran katekolamin yang berlebihan dapat pula turut menimbulkan keseimbangan nitrogen yang sangat negative yang tampak pada penyakit ini.

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Tetanus Pada Anak

Kuman tetanus dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka-luka, telinga, saluran pernapasan, atau saluran pencernaan. Tali pusar bayi yang tidak dirawat dengan baik dan benar dapat juga menyebabkan masuknya kuman tetanus.

Gejala yang muncul bila anak balita terkena tetanus antara lain anak balita mengalami kesulitan membuka mulut, sukar menelan dan nyeri kepala atau anggota badan lainnya. Jika sudah sangat parah, otot perutnya akan menjadi sangat kaku seperti papan.

Indikasi lain dari anak balita yang sudah terinfeksi kuman tetanus adalah alis mata mengarah ke atas, sudut mulut sebelah luar tertarik ke bawah dan posisi bibir menekan serangan kuman tetanus pada anak balita diperlukan penanganan oleh dokter.

Pada waktu anak-anak biasanya pencegahan terhadap penyakit ini sudah diberikan. Pencegahan biasanya diberikan kepada mereka yang mengalami luka yang dikhawatirkan akan tercemar kuman tetanus.

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Gejala Terkena Tetanus

Bakteri tetanus ini tumbuh pada luka dan mengeluarkan toksin yang dapat menyusup secara sistemik dan menimbulkan kejang otot skelet. Penderita umumnya tidak mengalami demam, tetapi banyak mengeluarkan keringat dan mulai merasa sakit, terutama pada otot sekitar luka terjadi kedutan (twitching) dan pasien tidak dapat membuka mulut ddengan baik (trismus) yang disebabkan oleh meningkatnya tonus otot masseter.

Gejala pertama tetanus adalah kelemahan yang bersifat lokal atau umum, kekakuan atau kram otot atau kesulitan mengunyah serta menelan makanan. Kesukaran menelan dapat menyebabkan terjadinya aspirasi makanan. Kekakuan biasanya terjadi dalam 1-4 hari setelah gejala pertama.

Masa antara gejala pertama dan terjadinya spasme atau kejang disebut dengan masa awal. Sebagaimana halnya dengan masa inkubasi, masa awal yang pendek, terutama kurang dari 48 jam, cenderung merupakan penyakit yang lebih serius. Sejalan dengan bertambah seriusnya penyakit, spasme juga bertambah berat, menjadi sangat nyeri dan melelahkan. Spasme sering dicetuskan oleh stimuli yang ada di sekitarnya, seperti cahaya atau bunyi langkah seseorang.

Kebanyakan penderita tetanus datang dengan manifestasi umum, tetapi pada beberapa penderita, spasme otot hanya tetap terbatas pada daerah anatomik luka pemicu.

Kejang tetanus berlangsung dari beberapa detik sampai beberapa menit. Perjalanan tetanus pada penderita yang bertahan hidup dapat berlangsung lama (1-2 bulan) dan sulit. spasme mungkin mulai berkurang setleah 10-14 hari dan menghilang setelah satu-dua minggu lagi. Sisa kelemahan, kekakuan dan keluhan lain mungkin bertahan untuk jangka waktu yang lama, tetapi penyembuhan lengkap dapat terjadi pada tetanus tanpa komplikasi.

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Gejala Tetanus

Penyakit tetanus yang merupakan penyakit infeksi ini disebabkan oleh Mycobacterium tetani yang berbentuk spora masuk ke dalam luka terbuka, berkembang biak secara anaerobik dan membentuk toksin.

Tetanus yang khas terjadi pada usia anak adalah tetanus neonatorum. Tetanus neonatorum dapat menimbulkan kematian karena terjadi kejang, sianosis dan henti napas. Resevoarnya adalah kotoran hewan atau tanah yang terkontaminasi kotoran hewan dan manusia.

Gejala awal ditunjukkan dengan mulut mencucu dan bayi tidak mau menyusu. Kekebalan pada penyakit ini hanya diperoleh dengan imunisasi atau vaksinasi lengkap karena riwayat penyakit tetanus tidak menyebabkan kekebalan pada anak. Imunisasi yang diberikan tidak hanya DPT pada anak, tetapi juga TT pada calon pengatin (TT caten), TT pada ibu hamil yang diberikan saat antenatal care (ANC) dan DT pada anak sekolah dasar kelas I dan VI.

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Imunisasi DPT

Penyakit tetanus merupakan penyakit infeksi berbahaya karena memengaruhi kerja sistem saraf dan otot. Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, serta rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas, dan paha. Infeksi tetanus disebabkan oleh Clostridium tetani yang memproduksi toksin tetanospasmin. Toksin ini akan mengganggu aktivitas sistem saraf. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri tetanus. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.

Penyakit Tetanus Pada Anak

Imunisasi DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)

Vaksinasi DPT akan menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit Difteria, Pertusis (batuk rejan/batuk seratus hari), dan tetanus. Di Indonesia vaksin terhadap ketiga penyakit tersebut dipasarkan dalam 3 kemasan, yaitu dalam bentuk kemasan tunggal bagi tetanus, dalam bentuk kombinasi DT (difteria dan tetanus), kombinasi DPT (difteria, pertusis dan tetanus).

Vaksin difteria dibuat dari toksin atau racun kuman difteria yang telah dilemahkan dinamakan toksoid. Biasanya diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT, atau dengan vaksin tetanus dan pertusis dalam bentuk vaksin DTP.

Vaksin tetanus yang digunakan untuk imunisasi aktif adalah toksoid tetanus atau toksin atau racun kuman tetanus yang sudah dilemahkan kemudian dimurnikan. Ada 3 macam kemasan vaksin tetanus, yaitu bentuk kemasan tunggal dan kombinasi dengan vaksin difteria (vaksin DT) atau kombinasi dengan vaksin difteria dan pertusis (vaksin DTP).

Vaksin terhadap penyakit batuk rejan atau batuk seratus hari terbuat dari kuman Bordetella Pertussis yang telah dimatikan. Selanjutnya dikemas bersama vaksin difteria dan tetanus (vaksin DTP).

a. Cara Imunisasi

Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu antara 2 penyuntikan minimal 4 minggu. Imunisasi ulangan/booster yang pertama dilakukan pada usia 1 1/2 – 2 tahun atau 1 tahun setelah suntikan imunisasi dasar ketiga. Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia 6 tahun atau di saat kelas 1 SD. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT. Vaksin pertusis (batuk rejan) tidak dianjurkan pada anak yang berusia lebih dari 7 tahun karena reaksi yang timbul dapat lebih hebat selain itu juga perjalanan penyakit pertusis pada anak berumur lebih dari 5 tahun tidak parah.

Pada masa mendatang telah dipikirkan untuk memberikan vaksin tetanus khusus untuk anak perempuan yang belum pernah mendapat imunisasi DPT, atau imunisasi DPT tidak lengkap, sebanyak 2 kali lagi pada saat kelas 2 dan kelas 3 SD tindakan ini diperkirakan cukup untuk memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit tetanus sehingga bayi yang kelak dikandung dapat terlindung dari penyakit tetanus neonatorum atau tetanus pada bayi baru lahir. Di Indonesia penyakit tetanus pada bayi baru lahir masih merupakan penyebab kematian yang kadang terjadi pada saat bayi baru lahir.

Imunisasi ulang sewaktu, diperlukan juga bila anak berhubungan dengan anak lain yang menderita difteria atau batuk rejan. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus. Dalam hal imunisasi tidak perlu cemas seandainya anak mendapatkan suntikan ulang sebelum waktunya. Atau bila diduga luka pada anak akan terinfeksi tetanus,biasanya akan memberikan suntikan ulang. Lebih baik memberikan imunisasi berlebih daripada kurang.

b. Kekebalan

Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteria cukup baik, yaitu sebesar 80-95% dan daya proteksi vaksin tetanus sangat baik, yaitu sebesar 90-95%. Sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih rendah, yaitu 50-60%. Oleh karena itu anak yang telah mendapat imunisasi pertusis masih dapat terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan.

c. Reaksi Imunisasi

Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam, pembentukan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari

d. Efek Samping

Terkadang timbul reaksi akibat efek samping yang berat, seperti demam tinggi atau kejang yang disebabkan oleh unsur pertusisnya

e. Kontra Indikasi

Imunisasi DPT tidak boleh diberikan pada anak yang sakit parah dan anak yang menderita penyakit kejang demam kompleks. Juga tidak boleh diberikan kepada anak dengan batuk yang diduga sedang menderita batuk rejan dalam tahap awal atau pada penyakit gangguan kekebalan (defisiensi umum).

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Tetanus Neonatorum

Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia 0-1 bulan). Tetanus sendiri merupakan penyakit toksemia akut yang menyerang sususan saraf pusat, oleh karena adanya tetanospasmin dari Clostridium tetani. .Tetanus juga dikenal dengan nama lockjaw, karena salah satu gejala penyakit ini adalah mulut yang sukar dibuka (seperti terkunci)

Tetanus Neonatorum

Penyakit tetanus disebabkan oleh kuman Clostridium tetani. Kuman Clostridium tetani bersifat anaerob, artinya kuman hidup dan berkembang dengan pesat dalam lingkungan yang kurang atau tidak mengandung oksigen. Kuman ini membentuk spora-spora yang berbentuk batang, dengan ujung bulat seperti tongkat penabuh drum (drum stick). Spora tersebut bila tidak terpajan sinar matahari dapat hidup berbulan-bulan bahkan beberapa tahun seperti di dalam tanah. Spora inipun dapat merupakan flora usus normal dari kuda, sapi, domba, anjing, kucing, tikus, ayam dan manusia,. Sifat lain dari spora ini adalah tahan dalam air mendidih selama 4 jam, tetapi mati bila dipanaskan selama 20 menit pada suhu 121 derajat Celcius (dengan autoklaf).

Tetanus terdapat di seluruh dunia tetapi insidens di negara maju sudah sangat jarang. Penyakit tetanus ini masih merupakan masalah kesehatan di negara berkembang karena sanitasi lingkungan yang kurang baik dan imunisasi aktif yang belum mencapai sasaran. Di Indonesia dan negara berkembang lain, penyakit tetanus neonatorum masih menjadi masalah. Hal ini terutama disebabkan oleh pertolongan persalinan bagi sebagian masyarakat masih menggunakan tenaga non-profesional (dukun bayi/peraji). Faktor lain adalah sebagian ibu yang melahirkan tidak atau belum mendapat imunisasi tetanus toksoid (TT) pada masa kehamilannya.

Clostridium tetani dalam bentuk spora masuk ke tubuh melalui luka potongan tali pusat, yaitu tali pusat yang dipotong menggunakan alat yang tidak steril atau perawatan tali pusat yang tidak baik. Bila keadaan memungkinkan, misal luka tersebut menjadi anaerob disertai jaringan nekrotis, spora berubah menjadi bentuk vegetatif dan selanjutnya berkembang biak. Kuman ini tidak invasif tetapi bila dinding sel kuman lisis, kuman ini akan melepaskan dua macam toksin, yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanospasmin sangat mudah diikat oleh saraf, oleh karena itu disebut juga neurotoksin.

Pengobatan dan Pencegahan :

a. Tetanus imunoglobulin (TIG) manusia. TIG diberikan secara intramuskular dengan  dosis 250-500 unit. TIG ini diberikan dengan maksud untuk menetralisasi toksin yang beredar dalam darah

b. Antitetanus serum (ATS). ATS diberikan bila tidak tersedia TIG. Selama pemberian harus diperhatikan, karena ATS ini berasal dari serum kuda sehingga harus diantisipasi kemungkinan terjadinya syok anafilaksis. Dosis ATS 3000-5000 unit secara intramuskular.

c. Antikonvulsan. Obat ini diberikan untuk merelaksasi otot dan kepekaan jaringan saraf terhadap rangsang. Obat yang lazim digunakan adalah diazepam (dengan dosis 0,5 mg/kg BB/hari dibagi dalam beberapa dosis dan diberikan intravena atau intramuskular) dan fenobarbital (dengan dosis 10-20 mg/kg BB/hari ) dibagi 4 kali.

d. Antibiotika. Antibiotika digunakan untuk membunuh kuman Clostridium tetani dalam bentuk vegetatif. Antibiotika yang paling sering digunakan adalah penisilin procain. Dosis 200.000 U/kg BB/hari diberikan intramuskular selama 10 hari atau 3 hari setelah panas turun

e. Oksigen diberikan bila terjadi asfiksia atau sianosis

f. Tindakan pencegahan yang paling efektif adalah melakukan imunisasi dengan tetanus toksoid (TT) pada wanita calon pengantin dan ibu hamil sebanyak 2 kali dengan interval minimal 1 bulan. Selain itu, tindakan memotong dan merawat tali pusat harus secara steril

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Tanda-Tanda Tetanus

Tetanus merupakan proses akibat toksin, bukan bersifat infeksi ataupun inflamasi dan disebabkan oleh Clostridium tetani, yaitu kuman anaerob gram-positif berbentuk batang yang membentuk spora.

Clostridium tetani ditemukan hampir di setiap tempat. Kuman ini memasuki tubuh lewat :

- Luka tusuk
- Cedera remuk
- Luka bakar
- Luka yang terkontaminasi feses, tanah atau debris
- Infeksi gigi
- Pembedahan elektif
- Ulkus iskemik perifer
- Benda yang menembus dan tertanam
- Penyuntikan dan instrumen medik untuk abortus ilegal yang terkontaminasi

Spora kuman dapat masuk ke dalam tubuh dan berada dalam keadaan inaktif selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Spora tersebut akan berubah menjadi bentuk vegetatif dalam keadaan terjadinya penurunan tekanan oksigen yang menimbulkan lingkungan anaerob. Bentuk vegetatif ini menghasilkan neurotoksin tetanospasme yang mengakibatkan disfungsi sistem sistem saraf pusat.

Jenis-Jenis Tetanus


Terapi Penanganan Tetanus

Terapi yang bersifat suportif, adalah :

- Mengendalikan tetanospasme
- Memberikan dukungan kardiovaskular dan respiratorius
- Mengendalikan aritmia
- Mengurangi stimulasi sistem saraf simpatik (mengurangi rangsangan cahaya dan suara dari luar, menjaga lingkungan yang tenang dan tidak berisik)

Terapi Profilaksis Bagi Penyakit Tetanus

Pemberian human hyperimmune antitetanus globulin sedikitnya 500 U (dengan takaran yang berkisar dari 3.000-6.000 U) dan pemberian antibiotik yang efektif untuk Clostridium tetani selama 10 hari (penisilin, eritromisin atau metronidazol). Di samping itu, penderita harus melakukan perawatan luka yang cermat untuk menetralkan toksinnya. Seperti halnya pada rabies, tindakan pencucian, pembilasan dan debridement luka sudah tepat.

Posted in Gejala Tetanus | Tagged , , , , , , | Leave a comment